Nyepi di Regina Caeli: Harmoni dalam Keheningan, Persaudaraan dalam Perbedaan
NewsCileungsi, 2 April 2026 – Suasana berbeda terasa di lingkungan Sekolah Regina Caeli pada Jumat pagi (2/4/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, seluruh warga sekolah, mulai dari murid PG–TK hingga SMA, para pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), komite sekolah, hingga pengurus Yayasan Bina Muda Regina, berkumpul dalam satu semangat merayakan Hari Raya Nyepi dalam bingkai kebhinekaan dan persaudaraan.
Mengusung tema, “Wasudewa Kutumbakam, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju”, kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni keagamaan, tetapi juga ruang pembelajaran hidup tentang toleransi, penghayatan iman, dan kepedulian terhadap alam.

Acara yang dipandu oleh Misel, Rama, Evelyn, dan Defi diawali dengan sambutan pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pinandita I Wayan Agus Pujayana, S.Pd., S.E., M.M. dari Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan. Doa dipanjatkan untuk keharmonisan alam semesta, memohon agar alam senantiasa memberikan keseimbangan dan kedamaian bagi kehidupan manusia.
Seluruh yang hadir larut dalam suasana khusyuk. Hening bukan sekadar diam, melainkan ruang refleksi bersama. Dalam momen ini, nilai toleransi tampak nyata, setiap orang, apa pun latar belakangnya, turut menghormati dan menghayati jalannya ibadah.
Rangkaian doa mencakup pembacaan empat sloka suci serta pelaksanaan Panca Sembah, sebagai bentuk pemujaan kepada Tuhan dalam berbagai manifestasi-Nya, termasuk Surya sebagai sumber kehidupan. Ucapan suci seperti Om Swastiastu dan Namaste mengalun, mengandung makna doa dan penghormatan terhadap roh suci dalam diri setiap manusia.
Salah satu prosesi penting dalam perayaan ini adalah penyucian ogoh-ogoh. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk penyadaran bahwa dalam proses pembuatan ogoh-ogoh, bisa saja terdapat ketidaksucian pikiran maupun perasaan. Dengan disucikan, ogoh-ogoh tidak lagi dimaknai sebagai sosok menyeramkan, melainkan simbol pengendalian diri dari energi negatif.
Penyucian ini juga diyakini dapat menetralisasi energi yang tidak harmonis, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dalam suasana damai dan penuh makna.
Perayaan semakin semarak dengan berbagai penampilan seni dari murid lintas jenjang. Tari Pendet yang dibawakan oleh Gita dari tingkat SD membuka rangkaian pertunjukkan sebagai simbol penyambutan. Penampilan dilanjutkan dengan berbagai tari dari murid PG–TK, Tari Janger dari murid SD kelas kecil dan SMP, Tari Merak yang memukau dari Sinta dan Sintya, hingga beragam tarian dari murid SD kelas besar dan SMA yang menunjukkan kreativitas serta kekayaan budaya Nusantara.
Setiap gerakan mempertegas bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
Dalam sambutannya, Mr. Agus menegaskan bahwa tema kegiatan ini bukan sekadar slogan. Melalui tema tersebut, Regina Caeli School sedang menginvestasikan perdamaian dunia di masa depan. Ia juga menekankan bahwa agama tidak hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata, sebagaimana yang diwujudkan dalam perayaan ini.
Setelah prosesi penyucian, kegiatan dilanjutkan dengan perarakan ogoh-ogoh yang menjadi puncak acara. Pawai ini tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga sarana edukasi tentang filosofi Nyepi, bahwa manusia perlu membersihkan diri dari sifat-sifat negatif demi mencapai keseimbangan hidup.
Lebih dari itu, perayaan Nyepi di Regina Caeli School membawa pesan ekologis. Refleksi Nyepi mengajarkan manusia untuk memberi ruang bagi alam untuk bernapas, mengurangi aktivitas yang merusak lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran untuk hidup lebih selaras dengan alam.
Perayaan ditutup dengan doa bersama untuk keharmonisan seluruh umat manusia. Dalam keheningan yang sarat makna, Regina Caeli School menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan karakter, penghayatan iman, dan kepedulian sosial.
Nyepi di Regina Caeli School bukan sekadar perayaan, melainkan pengalaman bersama tentang bagaimana hidup dalam harmoni, saling menghargai, dan merawat bumi sebagai rumah bersama.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om.
Kontributor: Gisela Ilary Aileen (murid kelas 12 SMA RC)
